Sang Profesor Pisang dari Bantul Yogyakarta, Lasiyo

Mungkin belum banyak di antara pengguna aplikasi PETANI yang mengenal sosok dari Lasiyo Syaifuddin. Padahal, pria paruh baya yang berasal dari Dusun Ponggok, Sidomulyo, Kecamatan Bambanglipuro, Kabupaten Bantul, Yogyakarta ini sudah banyak dikenal oleh ilmuwan dunia, terutama ilmuwan bidang pertanian. Bahkan, Lasiyo pun telah dianugerahi gelar sebagai “Profesor Pisang”.

Ya, Lasiyo adalah seorang petani pisang. Profesi yang mengantarkannya ke gerbang kesuksesan yang ternyata bermula dari peristiwa gempa 5,6 skala Richter yang menghancurkan seluruh tempat tinggal, harta benda hingga mengakibatkan ia kehilangan pekerjaan tetapnya sebagai pekerja di toko bangunan.Hingga akhirnya, Lasiyo pun memutuskan untuk beralih menjadi petani pisang.

Lasiyo memilih untuk membudidayakan pisang karena dia menganggap bahwa pohon pisang adalah tanaman yang mudah ditanam dan memiliki waktu panen yang relatif cepat. Selain itu, banyak pekarangan produktif yang dapat dimanfaatkan untuk membudidayakan pisang-pisang tersebut. Maka dari itu, Lasiyo pun segera meminta restu kepada lurah setempat, memohon agar pengadaan bibit pohon pisangnya bisa difasilitasi.

Ketika sang lurah mengabulkan permohonannya, Lasiyo dan masyarakat sekitar pun berbondong-bondong menanam pisang di halaman atau lahan kosong miliknya masing-masing. Untuk memudahkan koordinasi dan konsolidasi, warga kemudian membentuk kelompok tani (poktan) yang dinamai Puspita Hati.

Seiring berjalannya waktu, Lasiyo mulai mendatangkan varietas-varietas pisang lainnya dari berbagai tempat. Khususnya pisang-pisang lokal Indonesia. Tujuannya adalah untuk turut menjaga varietas pisang-pisang lokal dari kepunahan.

Saat ini terdapat 18 varietas pisang yang tumbuh subur di Dusun Ponggok. Antara lain raja bagus, raja bulu, raja sere, raja jengkel, kapok kuning, ambon kuning, ambon lumut, raja pulut, raja kidang, kojo atau pisang susu, raja sewu, pulut, klutuk, mas kirana, gabu atau koprek, byok, dan pisang moro sebo.

Nah, dari varietas-varietas tersebut, raja bagus menjadi pisang unggulan Dusun Ponggok. Rasanya yang manis dan dagingnya yang besar serta tidak berbiji membuat nilai jualnya tinggi.

Tidak hanya sekedar melakukan budi daya, Lasiyo juga kemudian mengembangkan pestisida dengan bahan-bahan sederhana secara otodidak. Pria asal Bantul tersebut memadukan bawang merah dan kucai untuk menghasilkan pestisida nabati yang berkualitas. Tak hanya itu, ramuan otodidaknya tersebut juga mampu merangsang tumbuh kembang pada pohon pisang.

Berkat pengembangan secara otodidaknya tersebut, Lasiyo mampu mempersingkat masa pembibitan dari empat bulan menjadi dua bulan. Pisang yang dihasilkan pun sangat berkualitas. Hingga pada suatu waktu, Ia mulai didatangi oleh para ilmuwan dari berbagai negara, seperti Jepang, Belanda, Thailand, Australia hingga Italia. Mereka tertarik untuk mendengarkan cara Lasiyo membudidayakan pisang dengan cepat.

Tak berhenti disitu, Lasiyo pun terus melakukan beragam penelitian. Penelitian tersebut ia lakukan dari coba-coba, hingga menghasilkan bioaktivator alami, zat pengatur tumbuh tanaman dari kucai, pestisida nabati dari beragam tanaman, dan lain-lain. Selain itu, Lasiyo juga berupaya untuk menjaga kelestarian ragam jenis pisang dengan melakukan budi daya berbasis ramah lingkungan.

Hingga pada akhirnya, penelitian-penelitian yang dilakukan oleh Lasiyo dapat mengantarkannya untuk mengikuti pertemuan Salone del Gusto Terra Madre 2016 (SGTM) di Turin, Italia. SGTM sendiri merupakan pertemuan internasional yang menghadirkan para penggerak pangan dan gastronomi yang ramah lingkungan.

Dalam acara tersebut, Lasiyo didapuk sebagai pembicara dan mempresentasikan segala temuan-temuannya dalam pembudidayaan pohon pisang. Para peneliti asing pun juga sangat antusias menyimak penjelasan yang disampaikan oleh sang “Profesor Pisang” tersebut.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *